MAKNA DAN KEUTAMAAN TAHUN BARU ISLAM, 1 MUHARRAM 1437 HIJRIYAH

TAHUN BARU ISLAM 1437 H

Setiap Peringatan Tahun Baru Hiriyah,  1 Muharram  lazimnya, umat Islam mengadakan pengajian, tablig akbar, ceramah, juga kegiatan – kegiatan lainya yang biasanya melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1437 Hijriyah kali ini sudah sewajarnya sanggup membawa kesadaran masyarakat terhadap makna sesungguhnya, yang tak lepas peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah.

Peringatan pada tahun ini juga diharapkan bisa mengubah perilaku masyarakat ke arah yang lebih baik. Kalimat “mengubah perilaku masyarakat ke arah yang lebih baik” patut kita garisbawahi. Pasalnya, itulah makna tahun baru Islam yang sebenarnya.  Setiap memasuki tahun baru Islam, kaum Muslim hendaknya memiliki semangat baru untuk merancang dan melaksanakan hidup ini secara lebih baik.

Peristiwa HIJRAH umat Islam dari Makkah ke Madinah bukan saja mengandung nilai sejarah dan strategi perjuangan, tapi juga mengandung nilai-nilai dan pelajaran berharga bagi perbaikan kehidupan umat secara pribadi dan kejayaan kaum Muslim pada umumnya.

Maka, seyogianya dalam memaknai tahun baru Islam ini, kita menggali kembali hikmah yang terkandung di balik peristiwa hijrah yang dijadikan momentum awal perhitungan Tahun Hijriyah.

Keutamaan Tahun Hijriyah

Tahun hijriyah mulai diberlakukan pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Sistem Kalender Islam itu tidak mengambil nama ‘Tahun Muhammad’ atau ‘Tahun Umar’. Artinya, tidak mengandung unsur pemujaan seseorang atau penonjolan personifikasi, tidak seperti sistem penanggalan Tahun Masehi yang diambil dari gelar Nabi Isa, Al-Masih (Arab) atau Messiah (Ibrani).

Penetapan nama Tahun Hijriyah (al-Sanah al-Hijriyah) merupakan kebijaksanaan Khalifah Umar bin Khattab. Seandainya Khalifah Umar berambisi untuk mengabadikan namanya dengan menamakan kalender itu dengan “Tahun Umar” sangatlah mudah baginya melakukan itu. Umar tidak mementingkan keharuman namanya atau membanggakan dirinya sebagai pencetus ide sistem penanggalaan Islam itu.

Selain Umar, orang yang berjasa dalam penanggalan Tahun Hijriyah adalah Ali bin Abi Thalib. Keponakan Rasulullah Saw inilah yang mencetuskan pemikiran agar penanggalan Islam dimulai penghitungannya dari peristiwa hijrah, saat umat Islam meninggalkan Makkah menuju Yatsrib (Madinah).

Hijrah adalah momentum perjalanan menuju Daulah Islamiyah yang membentuk tatanan masyarakat Islam, yang diawali dengan eratnya jalinan solidaritas sesama Muslim (ukhuwah Islamiyah) antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar.Jalinan ukhuwah yang menciptakan integrasi umat Islam yang sangat kokoh itu telah membawa Islam mencapai kejayaan dan mengembangkan sayapnya ke berbagai penjuru bumi. Kaum Muhajirin-Anshar membuktikan, ukhuwah Islamiyah bisa membawa umat Islam jaya dan disegani.

Islam mengajarkan, hari-hari yang kita lalui hendaknya selalu lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Dengan kata lain, setiap Muslim dituntut untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari.

 Allah SWT meningatkan dalam QS 59:18,

”Hendaklah setiap diri memperhatikan (melakukan introspeksi) tentang apa-apa yang telah diperbuatnya untuk menghadapi hari esok (alam akhirat).”

 Muharram Bulan Memuliakan yatim ?

Salah satunya adalah hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas r.a bahwa Rasullulah pernah bersabda “dan barang siapa yang membelaikan tangannya pada kepala anak yatim di hari Asyuro, maka Allah Ta’ala mengangkat derajat orang tersebut untuk satu helai rambut satu derajat, dan barangsiapa memberikan (makan dan minum) untuk berbuka bagi orang mukmin pada malam Asyuro, maka orang tersebut seperti memberikan makanan kepada seluruh umat Muhammad SAW dalam keadaan kenyang semuanya”.

santunan yatim-yayasa panji nusantaraKapan waktu yang tepat untuk berbagi dan memuliakan anak yatim? Untuk menentukan waktu, kita bisa mengacu kepada salah sebuah hadist yang meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW menyayangi mereka pada hari 10 Muharram (Asyura), dan menjamu serta bersedekah pada 10 Muharram bukan hanya kepada anak yatim tapi keluarga, anak, istri, suami dan orang orang terdekat, karena itu sunnah beliau SAW dan pembuka keberkahan hingga setahun penuh.

“Sayangilah dan muliakanlah  anak yatim sebagaimana kita menyayangi anak kita sendiri” Itulah poin utama dari mengapa dilangsungkan dan disunnahkan para mukmin yang sudah seharusnya berbagi, terlebih kepada anak-anak yang merupakan calon generasi muda, pemimpin masa depan yang sudah tidak lagi memiliki orang tua.

DSC00044Semoga kita memahami sejarah tahun baru Islam dengan benar, menyikapinya dengan benar, juga mampu menggali maknanya dengan benar pula hingga mampu memicu semangat hijrah dalam diri, menuju iman, ilmu, dan amal yang lebih baik. Amin…!

Yayasan Panji Nusantara Yang beralamat di Jl,Raya Inpres No.50 RT 05 RW 02 Kelurahan Tengah Kramatjati Jakarta Timur sebagi yayasan yang mempunyai binaan sebanyak 100 anak yatim di Bulan Muharram 1437 H berencana mengadakan santunan anak yatim tanggal 8 November 2015 untuk memuliakan anak yatim , donasi bisa menghubungi 021-8094342, 081213199395.(grt/ypn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019: Yayasan Sosial | Anak Yatim | Lembaga Sosial di Jakarta Timur | KABBO Theme by: D5 Creation | Powered by: WordPress